Rabu, 08 Januari 2014
Sejarah PT Smartfren Telecom, Tbk
Smartfren merupakan produk dari Smart Telecom yang fokus di jaringan CDMA 2000, namun kini Smart Telecom telah bergabung dengan Mobile-8 Telecom (Fren) yang menghasilkan produk Smartfren.
PT Smartfren Telecom, Tbk. adalah operator penyedia jasa telekomunikasi berbasis teknologi CDMA yang memiliki lisensi selular dan mobilitas terbatas (fixed wireless access), serta memiliki cakupan jaringan CDMA EV-DO (jaringan mobile broadband yang setara dengan 3G) yang terluas di Indonesia. Smartfren juga merupakan operator telekomunikasi pertama di dunia yang menyediakan layanan CDMA EV-DO Rev. B (setara dengan 3,5G dengan kecepatan unduh s.d. 14,7 Mbps) dan operator CDMA pertama yang menyediakan layanan Blackberry.
Sejarah Awal Berdiri Perusahaan PT Smartfren Telecom
Perusahaan PT Smartfren Telecom
PT Mobile-8 Telecom Tbk (“Mobile-8” atau “Perseroan”) didirikan pada bulan Desember 2002. Pada tahun 2003, Perseroan mengakuisisi dua operator telepon selular berlisensi, yaitu Komselindo dan Metrosel, dan mulai beroperasi sebagai penyelenggara jasa selular dengan menggunakan basis teknologi CDMA. Layanan yang pertama kali diluncurkan oleh Mobile-8 adalah Layanan Selular Prabayar dengan brand “Fren” yang dioperasikan pada bulan Desember 2003 dengan berbasis jaringan CDMA 2000-1X.
Pada bulan April 2004, Mobile-8 meluncurkan Layanan Selular Fren Paskabayar pada jaringan yang sama. Lima bulan kemudian Perseroan mengakuisi satu lagi operator telepon selular berlisensi, yaitu Telesera. Perseroan juga serta merta menyelesaikan peralihan sistem telekomunikasi yang dioperasikan ketiga operator berlisensi yang diakuisi tersebut dari sistem selular analog menjadi sistem selular digital CDMA.
Pada tahun 2006, Mobile-8 memperkenalkan layanan 3G pada jaringan CDMA EVDO, serta melakukan pencatatan perdana saham pada Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta). Langkah-langkah Perseroan di pasar modal terus berlanjut, dimana pada tahun 2007 Mobile-8 berhasil menerbitkan obligasi Rupiah pertamanya yang juga dicatatkan di Bursa Efek Indonesia. Kemudian, Perseroan juga turut meramaikan pasar modal regional dengan penerbitan Eurobond pertamanya yang dicatatkan di Bursa Efek Singapura.
Pada bulan April 2008, Mobile-8 memperkenalkan fitur baru yaitu “World Passport”, dimana Mobile-8 menjadi operator CDMA pertama di dunia yang bergabung dengan Asosiasi GSM sehingga memungkinkan pelanggan Mobile-8 melakukan PT Smartfren Telecom, Tbk. adalah operator penyedia jasa telekomunikasi berbasis teknologi CDMA yang memiliki lisensi selular dan mobilitas terbatas (fixed wireless access), serta memiliki cakupan jaringan CDMA EV-DO (jaringan mobile broadband yang setara dengan 3G) yang terluas di Indonesia.
Smartfren juga merupakan operator telekomunikasi pertama di dunia yang menyediakan layanan CDMA EV-DO Rev. B (setara dengan 3,5G dengan kecepatan unduh s.d. 14,7 Mbps) dan operator CDMA pertama yang menyediakan layanan Blackberry.
Jasa dan layanan Smartfren memiliki nilai-nilai (values) yaitu sebagai mitra yang terbaik bagi pelanggan dengan menawarkan solusi yang cerdas dalam layanan-layanan telekomunikasi untuk meningkatkan pengalaman hidup pelanggan dalam berkomunikasi.
Sebagai operator CDMA yang menyediakan jaringan internet kecepatan tinggi bergerak (mobile broadband) yang terluas di Indonesia, Smartfren berkomitmen untuk menjadi penyedia layanan telekomunikasi yang terjangkau bagi masyarakat dengan kualitas terbaik.
Prinsip Kerja Pengendap Elektrostatik (Electrostatic Precipitator/ESP)
Elektrostatik merupakan salah satu
cabang fisika yang berhadapan dengan gaya yang dikeluarkan oleh medan
listrik statik (tidak berubah) kepada sebuah objek yang bermuatan.
Aplikasi elektrostatik dalam dunia industri digunakan untuk mengatasi
masalah limbah debu. Industri yang banyak mengaplikasikannya yaitu
seperti PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), pabrik gula, dan pabrik
semen. Salah satu penerapannya yaitu penggunaan electrostatic precipitator (ESP).
ElectroStatic Precipitator
(ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi
tinggi (diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar.
Dengan menggunakan electrostatic precipitator (ESP) ini, jumlah
limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16%
(dimana efektifitas penangkapan debu mencapai 99,84%).
Salah satu komponen terpenting dalam
proses produksi di Pabrik Gula dan PLTU adalah boiler yang berfungsi
sebagai tempat untuk memanaskan air, sehingga menghasilkan uap yang
nantinya akan digunakan untuk proses selanjutnya. Pada PLTU, uap ini
digunakan untuk memutar turbin uap sebagai penggerak generator.
Untuk melakukan kerja, boiler membutuhkan adanya panas yang digunakan
untuk memanaskan air. Panas ini disuplai oleh bagian yang disebut dengan
ruang bakar atau furnace, dimana pada ruang bakar ini dilengkapi dengan alat pembakaran atau burner.
Hasil pembakaran di ruang bakar tersebut akan mengandung banyak debu,
mengingat bahan bakar yang digunakan adalah batubara, kemudian debu
tersebut akan terbawa bersama gas buang menuju cerobong. Sebelum gas
buang tersebut keluar melalui cerobong, maka gas buang tersebut akan
melewati kisi-kisi suatu electrostatic precipitator (ESP).
Cara Kerja ElectroStatic Precipitator
Cara kerja dari electrostatic precipitator (ESP) yaitu sebagai berikut :
(1) Melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, flue gas
yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada
saat melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi
sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-).
(2) Partikel debu yang bermuatan negatif (-) selanjutnya menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate), lihat gambar 4. Debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper), lihat gambar 1 dan 2, dan dipindahkan (transport) ke flyash silo dengan cara dihembuskan (vacuum).
Gambar a
Gambar b
Gambar c
Gambar d
Proses Pembentukan Medan Listrik
(1) Terdapat dua jenis electrode, yaitu discharge electrode yang bermuatan negatif (-) dan collector plate electrode bermuatan positif (+).
(2) Discharge electrode diletakkan diantara collector plate pada jarak tertentu (jarak antara discharge electrode dengan collector plate).
(3) Discharge electrode diberi listrik arus searah (DC) dengan muatan minus (lihat gambar 3),
pada level tegangan antara 55 – 75 kV DC (sumber listrik awalnya adalah
380 volt AC, kemudian dinaikkan oleh transformer menjadi sekitar 55 –
75 kV dan dirubah menjadi listrik DC oleh rectifier, diambil hanya potensial negatifnya saja).
(4) Collector plate ditanahkan (di-grounding) agar bermuatan positif.
(5) Dengan demikian, pada saat discharge electrode
diberi arus DC, maka medan listrik terbentuk pada ruang yang berisi
tirai-tirai electrode tersebut dan partikel-partikel debu akan tertarik
pada pelat-pelat tersebut, Gas bersih kemudian bergerak ke cerobong
asap.
Pengendap Elektrostatik Sebagai Sebuah Solusi Ramah Lingkungan
Alat pengendap elektrostatik digunakan
untuk membersihkan udara yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif
besar dan pengotor udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat
membersihkan udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini
sudah relatif bersih.
Alat pengendap elektrostatik ini
menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan antara 25 – 100 kv.
Alat pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi
muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang merupakan
pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan negatif. Adanya
perbedaan tegangan yang cukup besar akan menimbulkan corona discharga di
daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah –
olah mengalami ionisasi. Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan
udara bersih menjadi ion positif dan masing-masing akan menuju ke
elektroda yang sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik
oleh dinding tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah
silinder dan kemudian terhembus keluar.
Gambar (a) menunjukkan diagram skematik
dari sebuah pengendap elektroststik. Potensial listrik negatif yang
tinggi tertahan pada kumparan kawat yang ada di bagian tengah membentuk
sebuah lompatan listrik di sekitar kawat. Gambar (b) menunjukkan contoh
aplikasi pengendap elektrostatik, sedangkan gambar (c) adalah gambar
cerobong tanpa pengendap elektrostatik. Jika dibandingkan, gambar (c)
akan menghasilkan polusi udara lebih besar dibanding gambar (b). Jika
intensitas pembuangan gas (asap pabrik) terlalu banyak, maka akan
merusak lingkungan di sekitarnya. Hal terburuk yang akan terjadi secara
perlahan-lahan adalah rusaknya lapisan ozon di atmosfer yang merupakan
salah satu bentuk penyebab pemanasan global (global warming).
Electrostatic precipitator
merupakan salah satu cara agar industri yang berpotensi menghasilkan
limbah debu menjadi ramah lingkungan, setidaknya dapat mengurangi
kandungan polutan yang dibuang melalui cerobong.
Tutorial Teknik Digital : Decoder 7 Segmen
Pada umumnya orang menggunakan kode
desimal untuk menyatakan angka. Rangkaian sistem digital dalam
kalkulator atau komputer kebanyakan menggunakan kode biner untuk
menyatakan angka. Banyak kode lain yang digunakan dalam suatu sistem
digital untuk menyatakan angka, bahkan huruf dari alfabet. Penerjemahan
rangkaian digital, yang mengubah kode satu ke kode yang lain, digunakan
suatu dekoder dan enkoder dalam sistem digital.
Sebuah Decoder adalah rangkaian logika yang menerima input-input biner dan mengaktifkan salah satu output-nya sesuai dengan urutan biner input-nya. Rangkaian dekoder mempunyai sifat yang berkebalikan dengan enkoder yaitu merubah kode biner menjadi sinyal diskrit. Syarat perancangan sebuah dekoder adalah m <= 2n
dimana m adalah kombinasi keluaran dan n adalah jumlah bit masukan.
Satu kombinasi masukan hanya dapat mewakili satu kombinasi
keluaran.Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel keluaran bebas tapi
harus tetap memperhatikan unsur efisiensi rangkaian. Misal dekoder 3 bit
memiliki 8 atau kurang kombinasi keluaran tetapi bisa memiliki jumlah
saluran keluaran lebih dari 8 (10 atau 55 atau 100 dan sebagainya).
Contoh rangkaian dekoder adalah rangkaian dekoder dot matrik, dan
dekoder seven segmen.
Penampilan bilangan-bilangan biner dari sandi BCD menjadi bilangan decimal selain dalam tabung angka (nixie tube) yang
sudah berbentuk angka – angka decimal dari 0 sampai 9 juga dapat
diwujudkan oleh lampu – lampu penunjuk kecil (LED : light emitting
diodes). Dalam hal ini lampu – lampu penunjuk kecil/LED tersebut disusun
menjadi tujuh segmen, dan angka decimal dari 0 sampai 9 dapat
ditampilkan dengan cara mengatur cara penyalaan dari tujuh segmen
tersebut.
Perlu diketahui, bahwa LED adalah suatu
dioda yang bersifat mengemisi atau menyala bila mendapat suatu arus maju
(forward Biased). Dengan sifatnya yang demikian, LED banyak dipakai
sebagai lampu – lampu penunjuk kecil yang serba guna, misalnya saja
untuk menunjukkan keadaan “ON” dari suatu peralatan atau untuk lampu –
lampu test.
Bila semua segmen menyala, maka dapat
dibaca sebagai angka decimal 8. Angka decimal 0 dan 3 terlihat pada
menyalanya segmen – segmen sesuai gambar. Untuk penampilan huruf, hanya
beberapa huruf saja yang dapat dibaca dari tujuh segmen.
Jika kita perhatikan decoder ini
sebenarnya mirip dengan demultiplexer, dengan satu pengecualian
yaitu pada decoder ini tidak mempunyai data input. Input hanya
digunakan sebagai data control.
Beberapa rangkaian Decoder yang sering
dijumpai adalah decoder 3x8 ( 3 bit input dan 8 output line), decoder
4x16, decoder BCD to Decimal (4 bit input dan 10 output line), decoder BCD to 7 segment (4 bit input dan 8 output line).
Khusus untuk BCD to 7 segment mempunyai
prinsip kerja yang berbeda dengan decoder-decoder yang lain, di mana
kombinasi dari setiap inputnya dapat mengaktifkan beberapa output
line-nya (bukan salah satu line).
Contoh Gambar Rangkaian 3 to 8 decoder.
Operasi pada decoder dapat
dijelaskan lebih lanjut dari hubungan input-output, seperti
pada tabel. Amatilah pada variabel output yang mana, satu sama lainnya
saling eksklusif, karena ha nya ada satu output yang bernilai
1 pada satu waktu. Jalur output ditunjukkan dengan minterm yang
ekivalen dengan angka biner.
Tabel kebenaran 3 to 8 decoder.
| Input | Output | |||||||||
| A B C | D0 | D1 | D2 | D3 | D4 | D5 |
D6
|
D7 | ||
| 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 |
| 1 | 0 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 | 0 |
| 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 | 0 |
| 1 | 1 | 1 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | 1 |
Dekoder dapat dibentuk dari susunan
gerbang logika dasar atau menggunakan IC dekoder yang telah ada
dipasaran seperti 74LS48, 74LS154, 74LS138, 74LS155 dan sebagainya.
Dengan menggunakan IC dekoder yang telah ada dipasaran, perancang dapat
merancang dekoder dengan jumlah bit dan keluaran yang diinginkan. Contoh
merancang sebuah dekoder 32 saluran keluaran dengan IC dekoder 8
saluran keluaran. Dalam sistem digital, dekoder sangat sering digunakan
yaitu sebagai contoh: untuk dekoder matrik, seven segmen, pengontrol
trafic light, pengalamatan memori I/O dan sebagainya.
HEVC (High Efficiency Video Coding): Standar Teknologi Kompresi Video Termutakhir
Perkembangan standar kompresi video
sejalan dengan kebutuhan pengguna dan kecanggihan perangkat keras yang
ada saat ini. Berbagai macam teknik kompresi diteliti untuk memperoleh
hasil kompresi yang terbaik, tanpa mengurangi kualitas data kompresi
yang sebenarnya.
Awal pengembangan teknik kompresi video
telah didominasi oleh keinginan untuk memaksimalkan kemampuan kompresi.
Data video asli yang ukurannya terlalu besar diharapkan dapat disimpan
ke dalam ukuran file yang cukup kecil. Selain itu, aspek lain yang perlu
dipertimbangkan adalah seberapa besar data yang hilang akibat proses
kompresi.
Meskipun teknologi perangkat keras terus
berkembang, kecepatan komputasi pada perangkat keras tetap memiliki
keterbatasan. Teknik kompresi dituntut untuk menghasilkan teknik yang
terbaik dengan spesifikasi perangkat keras yang banyak beredar di
masyarakat. Tentu saja hal ini harus mempunyai standar yang baku, jelas,
dan dapat menjamin metode tersebut dapat diterapkan ke semua perangkat
keras yang ada di pasaran.
Standar kompresi video yang paling
sukses dan masih digunakan sampai saat ini yaitu H.262/MPEG-2 Video
(tahun 1994) dan H.264/MPEG-4 AVC (tahun 1999). Keduanya dikembangkan
oleh dua lembaga standarisasi internasional (joint project),
yaitu ITU-T dan ISO/IEC. Pemutakhiran teknik kompresi video tidak
berhenti sampai disini. Saat ini, kedua lembaga tersebut juga tengah
menetapkan standar kompresi video terbaru yang dikenal sebagai High
Efficiency Video Coding (HEVC).
HEVC
merupakan proyek standarisasi gabungan Antara ITU-T VCEG dan ISO/IEC
MPEG. Saat ini proses pengembangannya ada di bawah Joint Collaborative
Team on Video Coding (JCT-VC). Draf HEVC dikeluarkan pada tanggal 9
Oktober 2012 dan telah diselesaikan, serta dipublikasikan pada awal
tahun 2013 (HEVC versi pertama).
Pada dasarnya HEVC mampu menggandakan
rasio kompresi data video jika dibandingkan kompresi standar
H.264/MPEG-4 AVC pada level kualitas video yang sama. HEVC menjadi
metode alternatif yang secara substansial dapat menyediakan kualitas
video pada bit rate yang sama. HEVC mendukung 8K UHD dan ukuran
resolusi hingga 8192 x 4320 piksel. Beberapa ekstensi HEVC yang masuk
dalam daftar pengembangan, meliputi ekstensi jangkauan (mendukung format
video yang kualitasnya ditingkatkan), ekstensi coding yang scalable, serta ekstensi video 3D.
Secara teknis, HEVC didesain untuk
mengatasi aplikasi-aplikasi yang didukung oleh standar sebelumnya dan
secara khusus mengatasi dua isu utama, yaitu meningkatkan resolusi video
dan meningkatkan arsitektur pemrosesan paralel. Sintaks yang digunakan
HEVC bersifat generik dan elemen-elemen desain yang ada didalamnya juga
dapat berlaku atraktif untuk domain aplikasi lain yang belum menggunakan
standar sebelumnya.
Dalam teknologi HEVC, sebuah citra dibagi ke dalam tiga blok coding (coding three blocks/CTBs). Ukuran CTBs dapat dipilih oleh encoder
sesuai karakteristik arsitekturnya dan kebutuhan lingkungan aplikasi,
yang dapat membatasi hal-hal seperti kendala keterlambatan encoder/decoder dan kebutuhan memori.
Sintaks dan pengkodean struktur dari
berbagai standar video pernah diuji dalam sebuah penelitian. Efisiensi
pengkodean dilakukan menggunakan teknik optimasi yang sama, berbasis
Lagrangian, untuk menguji kemampuan beberapa standar kompresi video:
HEVC, H.264/MPEG-4 AVC, MPEG-4 Visual, H.263, dan H.262/MPEG-2. Hasil
yang diperoleh menunjukkan bahwa standar HEVC memberikan sejumlah besar
peningkatan efisiensi coding dibandingkan dengan standar
sebelumnya, termasuk standar H.264/MPEG-4 AVC. Dari penelitian tersebut
juga disimpulkan bahwa HEVC mempunyai manfaat yang lebih besar saat
diukur menggunakan PSNR pada keadaan bit rate yang rendah, konten video beresolusi tinggi, dan pengkodean aplikasi ber-delay rendah.
Dari banyak keunggulan yang dimiliki,
HEVC akan menentukan fase baru dalam hal teknologi kompresi yang
ditargetkan untuk meningkatkan pengalaman pengguna. HEVC harus cukup
fleksibel untuk mengatasi efisien dari rendah ke resolusi sangat tinggi,
sehingga dapat mendukung berbagai macam display yang baru.
Fleksibilitas dan kompleksitas HEVC harus dikendalikan melalui profil
dan tingkat perangkat yang memadai, serta dapat diterapkan pada
aplikasi-aplikasi yang berbeda domain.
Tutorial Instalasi Metaio SDK ke Dalam Perangkat Bergerak
Metaio dikenal sebagai salah satu platform teknologi augmented reality (AR) yang populer saat ini. Beberapa tools
AR telah diproduksi untuk keperluan pengembangan aplikasi AR bagi end
user. Kemudahan dan fleksibilitas tools untuk mengembangkan aplikasi AR
menjadi hal penting karena kiprah teknologi AR yang cemerlang, dapat
digunakan untuk berbagai macam aplikasi.
Berikut ini saya akan sedikit
menjelaskan cara melakukan instalasi salah satu platform Metaio, yaitu
Metaio SDK. Metaio SDK merupakan seperangkat development kit yang digunakan untuk mengembangkan aplikasi AR pada perangkat bergerak (baik smartphone maupun tablet). Tutorial ini menggunakan Metaio SDK versi 5.2 dan bekerja pada sistem operasi Windows 8.1.
1. Pastikan Anda sudah melakukan instalasi perangkat pengembangan
Eclipse IDE dan Android SDK, jika belum Anda bisa mengikuti tutorial
ini: http://www.adityarizki.net/2011/05/tutorial-instalasi-eclipse-dan-android-sdk-windows/
2. Download Metaio SDK pada tautan ini: http://my.metaio.com/index.php?state=register. Untuk mendapatkan file installer Metaio SDK, Anda harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu kemudian login.
3. Menjalankan file installer Metaio SDK seperti biasa (klik Next seterusnya sampai selesai). Path instalasi Metaio SDK secara default ada di Documents/metaio/.
4. Buka Eclipse Anda kemudian melakukan import Android Project tanpa copy ke workspace. Caranya yaitu klik File > Import, kemudian akan keluar jendela baru. Pilih Existing Projects into Workspace, lalu Next.
6. Jika semuanya dilakukan dengan baik, seharusnya di jendela Eclipse bagian kiri yang memuat workspace project Metaio SDK (ada lima folder: metaioSDK, metaioCloudPlugin Template, SDK_Example, SDK_ExampleCustomRenderer, SDK_Template) tidak ada error.
Masalah Import Android Project dengan Copy into Workspace
Copy Projects into Workspace
Error yang ditimbulkan
Error yang seringkali ditemui dan tanpa saya sadari adalah masalah import android project dengan copy ke workspace. Setelah diselidiki ternyata error tersebut terjadi karena ada beberapa library dan resources Metaio yang tidak ikut ter-include. Untuk mengatasinya lakukan langkah-langkah berikut:
1. Klik kanan folder SDK_Example, lalu pilih Properties. Klik tab Android di sebelah kiri. Perhatikan window di sebelah kanan bagian bawah (bagian Library). Remove item yang bertanda silang merah, kemudian Add folder metaioSDK. Pastikan uncheck bagian Is Library. Hal yang sama lakukan pada folder metaioCloudPluginTemplate, SDK_ExampleCustomRenderer, dan SDK_Template.
2. Meskipun pada langkah ini sudah tidak ada error (hanya terdapat warning), kita masih memerlukan pengaturan beberapa hal. Saya sudah pernah mencoba menjalankan project pada tahap ini, tetapi masih tidak bisa.
4. Masih pada folder project SDK_Example, cari sebuah file bernama .project kemudian edit baris berikut:
1
2
3
4
5
6
7
| <linkedresources> <link> <name>assets</name> <type>2</type> <locationuri>PARENT-3-PROJECT_LOC//tutorialContent_crossplatform</locationuri> </link> </linkedresources> |
5. Done! Anda siap menjalankan project SDK_Example pada device Android Anda.
Menjalankan Project SDK_Example
Metaio SDK dilengkapi dengan sampel contoh dan tutorial. Anda bisa menjalankan sampel tersebut dengan menjalankan project SDK_Example di atas. Harap diingat bahwa project hanya dapat dijalankan jika tidak terdapat error (jika hanya warning berwarna kuning masih bisa dijalankan). Selain itu project SDK_Example tidak dapat dijalankan pada Android Emulator, karena project harus memanfaatkan hardware (camera) yang ada di perangkat.
1. Pastikan device Android Anda terhubung dengan komputer/laptop melalui kabel data. Setelah terhubung, pilih mode USB Debugging pada Android Anda.
2. Cek melalui Command Prompt, apakah
device Android Anda sudah terhubung dengan baik ke PC. Cara mengeceknya
yaitu seperti berikut. Jika belum, maka Anda harus melakukan instalasi
driver USB yang sesuai dengan tipe Android Anda.
5. Dalam percobaan, Anda akan membutuhkan beberapa marker. Pada paket metaio SDK, marker-marker tersebut dapat diakses pada folder Documents/metaio/metaio SDK 5.2/Doc/Printouts/.
Kebetulan akhir-akhir ini saya banyak menggunakan tools ini untuk melakukan beberapa pengujian. Hal biasa yang sering kita temui sebelum menggunakan tools
baru adalah bingung saat instalasi tidak berhasil/error sehingga
kerapkali membuat frustasi. Ibaratnya kita seperti kalah dahulu sebelum
berperang.
Tulisan ini saya buat tidak hanya
sekadar untuk mendokumentasikan tutorial instalasi Metaio SDK, tetapi
juga untuk membantu teman-teman sekalian yang baru belajar menggunakan tools ini. Semoga bermanfaat. Tabik!
Mengenal Jaringan GSM (Global System for Mobile Communication)
Konsep Dasar GSM
Global System for Mobile communication
(GSM) adalah sebuah standar global untuk komunikasi bergerak digital.
GSM adalah nama dari sebuah group standarisasi yang dibentuk di Eropa
tahun 1982 untuk menciptakan sebuah standar bersama telpon bergerak
selular di Eropa yang beroperasi pada daerah frekuensi 900-1800 MHz. GSM
merupakan teknologi infrasturktur untuk pelayanan telepon selular
digital dimana bekerja berdasarkan TDMA (Time Division Multiple Access)
dan FDMA (Frequency Division Multiple Access). Jaringan Global System
for Mobile Communication (GSM) adalah jaringan telekomunikasi seluler
yang mempunyai arsitektur yang mengikuti standart ETSI (European
Telecommunication Standard Institute) GSM 900 / GSM 1800. Arsitektur
jaringan GSM tersebut terdiri atas tiga subsistem yaitu Base Station
Subsystem (BSS), Network Switching Subsystem (NSS) dan Operation
Subsystem (OSS) serta perangkat yang digunakan oleh pelanggan untuk
melakukan pembicaraan yang disebut Mobile System.
Sejarah Awal GSM
Pada awal tahun 80-an, teknologi
telekomunikasi seluler mulai berkembang dan banyak digunakan. Tapi
teknologinya masih analog, seperti AMPS, TACS, dan NMT. Karena
menggunakan teknologi yang masih analog, beberapa system yang
dikembangkan di beberapa negara yang berbeda tidak saling kompatibel
satu dengan yang lainnya, sehingga mobilitas user sangat terbatas pada
suatu area system teknologi tertentu saja.
Untuk mengatasi keterbatasan yang
terdapat pada sistem-sistem analog sebelumnya, pada tahun 1982, negara –
negara Eropa membentuk sebuah organisasi bertujuan untuk menentukan
standard-standard telekomunikasi mobile yang dapat dipakai di semua
Negara Eropa. Organisasi ini diberi nama Group Speciale Mobile (GSM).
Pembentukan organisasi ini dilatarbelakangi oleh keadaan di tiap-tiap
negara Eropa pada saat itu yang masih menggunakan system telekomunikasi
wireless yang analog dan tidak compatible antara negara, sehingga tidak
memungkinkan dilakukannya roaming antar negara. Organisasi ini kemudian
menghasilkan standard-standard telekomunikasi bergerak yang kemudian
dikenal dengan GSM (Global System for Mobile communication).
GSM sendiri mulai diimplementasikan di
negara eropa pada awal tahun 1990-an. Pemakaian GSM kemudian meluas ke
Asia dan benua Amerika. Pada saat ini GSM merupaka teknologi komunikasi
bergerak yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Pada akhir tahun
2005, pelanggan GSM di dunia sudah mencapai 1,5 billion pelanggan dan
merupakan teknologi yang paling banyak digunakan.
Di Eropa, pada awalnya GSM didesign
untuk beroperasi pada band frekuensi 900 MHz, dimana untuk frekuensi
uplinknya digunakan frekuensi 890-915 MHz, dan frekuensi downlinknya
menggunakan frekuensi 935 – 960 MHz. Dengan bandwidth sebesar 25 MHZ
yang digunakan ini (915 - 890 = 960 – 935 = 25 MHz), dan lebar kanal
sebasar 200 kHz, maka akan didapat 125 kanal, dimana 124 kanal digunakan
untuk voice dan 1 kanal untuk signaling.
Pada perkembangannya, jumlah kanal
sebanyak 124 kanal tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan yang
disebabkan pesatnya pertambahan jumlah subscriber. Untuk memenuhi
kebutuhan kanal yang lebih banyak ini, maka regulator GSM di Eropa
mencoba menggunakan tambahan frekuensi untuk GSM pada band frekuensi di
range 1800 MHZ, yaitu band frekuensi pada 1710-1785 MHz sebagai
frekuensi uplink dan frekuensi 1805-1880 MHZ sebagai frekuensi
downlinknya. Kemudian GSM dengan band frekuensi 1800 MHZ ini dikenal
dengan sebutan GSM 1800. Pada GSM 1800 ini tersedia bandwidth sebesar 75
MHz (1880-1805 = 1785-1710 = 75 MHz). Dengan lebar kanal tetap sama
seperti GSM 900, yaitu 200 KHz, maka pada GSM 1900 akan tersedia kanal
sebanyak 375 kanal.
GSM yang awalnya hanya digunakan di
Eropa, kemudian meluas ke Asia dan Amerika. Di Amerika Utara, dimana
sebelumnya sudah berkembang teknologi lain yang menggunakan frekwensi
900 MHZ dan juga 1800 MHz, sehingga frekuensi ini tidak dapat lagi
digunakan untuk GSM. Maka regulator telekomunikasi di sini memberikan
alokasi frekuensi 1900 MHZ untuk peng-implementasian GSM di Amerika
Utara. Pada GSM 1900 ini, digunakan frekuensi 1930-1990 MHz sebagai
freukwensi downlink dan frekuensi 1850-1910 MHz sebagai frekuensi
uplinknya.
Frekuensi Jaringan GSM
GSM 900-1800
Frekuensi ini merupakan frekuensi yang
paling banyak digunakan di dunia. GSM 900 menggunakan frekuensi Uplink
890-915 MHz dan frekuensi Downlink 935-960 MHz. Dengan lebar kanal
sebesar 200 KHz maka akan memiliki kanal sebanyak 124 kanal. Untuk
memenuhi kebutuhan kanal yang semakin banyak, maka digunakanlah Extended
GSM yaitu dengan menambah 50 kanal. Duplex spacing (jarak frekuensi
antara uplink dengan downlink) sebesar 45 MHz. GSM 1800 menggunakan
frekuensi uplink 1710-1785 MHz dan frekuensi downlink sebesar 1805-1880
MHz dengan duplex spacing sebesar 95 MHz.
GSM 850
Digunakan di USA dan Kanada. Terkadang
frekuensi ini disebut dengan frekuensi 800, karena pertama kali
digunakan untuk AMPS disebut frekuensi “800 MHz”. Frekuensi uplink
sebesar 824-849 MHz dan frekuensi downlink sebesar 869-894 MHz dengan
duplex spacing sebesar 47 MHz. GSM 850 memiliki kanal sebanyak 128-251
kanal.
GSM 1900
Frekuensi uplink digunakan pada
1850-1910 MHz dan frekuensi downlink pada 1930-1990 MHz dengan duplex
spacing sebesar 80 MHz. GSM 1900 memiliki kanal sebanyak 512-810 kanal.
Arsitektur Jaringan GSM
Secara umum, network element dalam aristektur jaringan GSM dapat dibagi menjadi :
- Mobile Station (MS)
- Base Station Sub-system (BSS)
- Network Sub-System (NSS)
- Operation and Support System
Secara bersama-sama, keseluruhan network element di atas akan membentuk sebuah PLMN (Public Land Mobile Network).
1. Mobile Station (MS)
Bagian paling rendah dari sistem GSM
adalah MS (Mobile Station). Mobile Station (MS) adalah perangkat yang
digunakan oleh pelanggan untuk melakukan pembicaraan. Secara umum sebuah
Mobile System terdiri dari:
- Mobile Equipment (ME) atau handset
- Subscriber Identity Module (SIM) atau Sim card
1.1. Mobile Equipment (ME)
Mobile Equipment (ME) atau handset
adalah perangkat GSM yang berada di sisi pelanggan yang berfungsi
sebagai terminal transceiver (pengirimdan penerima sinyal) untuk
berkomunikasi dengan perangkat GSM lainnya. Secara international, ME
diidentifikasi dengan IMEI (International Mobile Equipment Identity) dan
data IMEI ini disimpan oleh EIR untuk keperluan authentikasi, apakah
mobile equipment yang bersangkutan dijinkan untuk melakuan hubungan atau
tidak.
1.2. Subscriber Identity Module (SIM)
Subscriber Identity Module (SIM) adalah
sebuah smart card yang berisi seluruh informasi pelanggan dan beberapa
informasi service yang dimilikinya. Mobile Equipment (ME) tidak dapat
digunakan tanpa ada SIM card di dalamnya, kecuali untuk panggilan
emergency (SOS) dapat dilakukan tanpa menggunakan SIM card. Secara
functionality, sebuah MS mempunyai fungsi-fungis sebagai Radio Resource
Management, Mobility Management, dan juga sebagai Communication
Management.
2. Base Station Sub-system (BSS)
Secara umum, Base Station Sub-system
terdiri dari BTS (Base Transceiver Station) dan BSC (Base Station
Controller). Segala fungsi yang berhubungan dengan peniriman data lewat
gelombang radio dikerjakan di dalam bagian-bagian BSS, yang terdiri dari
:
2.1. Base Transceiver Station (BTS)
BTS adalah perangkat GSM yang
berhubungan langsung dengan MS. BTS berhubungan dengan MS melalui air
interface atau disebut juga Um Inteface. BTS berfungsi sebagai pengirim
dan penerima (transciver) sinyal komunikasi dari/ke MS yang menyediakan
radio interface antara MS dan jaringan GSM. Karena fungsinya sebagai
transceiver, maka bentuk pisik sebuah BTS adalah tower dengan dilengkapi
antena sebagai transceiver. Sebuah BTS dapat me-cover area sejauh 35
km. Area cakupan BTS ini disebut juga dengan cell. Sebuah cell dapat
dibentuk oleh sebuah BTS atau lebih, tergantung dari bentuk cell yang
diinginkan. Fungsi dasar BTS adalah sebagai Radio Resource Management,
yaitu melakukan fungsi-fungsi yang terkait dengan :
- meng-asign channel ke MS pada saat MS akan melakukan pembangunan hubungan.
- menerima dan mengirimkan sinyal dari dan ke MS, juga mengirimkan/menerima sinyaldengan frekuensi yang berbeda-beda dengan hanya menggunakan satu antena yang sama.
- mengontrol power yang di transmisikan ke MS.
- Ikut mengontrol proces handover.
- Frequency hopping
2.2. Base Station Controller (BSC)
BSC adalah perangkat yang mengontrol
kerja BTS-BTS yang secara hiraki berada di bawahnya. BSC merupakan
interface yang menghubungkan antara BTS (komunikasi menggunakan A-bis
interface) dan MSC (komunikasi menggunakan A interface). BSC secara umum
memiliki fungsi senagai berikut :
- Melakukan fungsi radio resource management pada BTS-BTS yang ada di bawahnya.
- Mengontrol proces handover inter BSC dan juga ikut serta dalam proces handover intra BSC.
- Menghubungkan BTS-BTS yang berada di bawahnya dengan OMC sebagai pusat operasi dan maintenance.
- Ikut terlibat dalam proces Call Control seperti call setup, routing, mengontrol dan men-ternimate call.
- Melakukan dan mengontrol proces timing advance control, yaitu mengontrol sinyal-sinyal yang diterima dari MS yang bergerak, sehingga tidak saling overlap.
3. Network Sub-System
3.1. Mobile Switching Center (MSC)
MSC adalah network element central dalam
sebuah jaringan GSM. Semua hubungan (voice call/transfer data) yang
dilakukan oleh mobile subscriber selalu menggunakan MSC sebagai pusat
pembangunan hubungannya. Pada umumnya, MSC memiliki fungsi-fungsi
sebagai berikut :
- Switching dan Call Routing : Sebuah MSC mengontrol proces pembangunan hubungan (call set up), mengontrol hubungan yang telah terbangun, dan me-release call apabila hubungan telah selesai. Dalam hal ini, MSC akan berkomunikasi dengan banyak network element lain seperti NE BSS, VAS, dan IN. MSC juga melakukan fungsi routing call ke PLMN lain (operator seluler lain ataupun jaringan PSTN).
- Charging : Untuk pelanggan pre-paid, MSC akan selalu berkomunikasi dengan IN yang melakukan fungsi online charging. Selain itu, MSC juga akan mencatat semua informasi tentang sebuah call dalam bentuk CDR (Call Detail Record).
- Berkomunikasi dengan network element lainnya (HRL,VLR, IN, network element VAS, dan MSC lainnya) : MSC akan berkomunikasi dengan HLR dan VLR terutama dalam proces pembangungan hubungan (call set up), call routing (di HLR disimpan lokasi terakhir MS tujuan dan untuk merouing call tersebut ke MS yang sedang meng-cover MS tujuan, HLR akan meminta informasi routing ke MSC yang sedang meng-cover MS pemanggil) dan call release. MSC akan berhubungan dengan network element VAS seperti SMSC, MMSC, RBT server, dll, dalam rangka proces delivery content service-service VAS tersebut ke MS tujuan. MSC akan berhubungan dengan MSC lain dalam hal proces call setup (trmasuk call routing), dan juga mengontrol process handover antar cell yang terletak pada 2 MSC yang berbeda.
- Mengontrol BSC yang terhubung dengannya : Sebuah MSC dapat terhubung dengan 1 BSC atau lebih. MSC akan mengontrol dan berkomunkasi dengan BSC dalam hal call setup, location update, handover inter MSC (handover antara 2 cell yang terdapat pada 2 BSC yang berbeda tapi masih dalam 1 MSC yang sama).
3.2. Home Location Register (HLR)
HLR adalah network element yang
berfungsi sebagai sebuah database sebagai penyimpan semua data dan
informasi mengenai pelanggan yang tersimpan secara permanen, dalam arti
tidak tergantung pada posisi pelanggan. HLR bertindak sebagai pusat
informasi pelanggan yang setiap waktu akan diperlukan oleh VLR untuk
merealisasi terjadinya komunikasi pembicaraan. VLR selalu berhubungan
dengan HLR dan memberikan informasi posisi terakhir dimana pelanggan
berada. Informasi lokasi ini akan diupdate apabila pelanggan berpinah
dan memasuki coverage area suatu MSC yang baru. Informasi-informasi yang
disimpan di HLR adalah :
- Identitas pelanggan (IMSI, MSISDN)
- Suplementary service pelanggan
- Informasi lokasi terakhir pelanggan
- Informasi Authentikasi pelanggan
HLR juga akan selalu berkomunikasi
dengan AuC dalam hal melakukan retrieving parameter authentikasi yang
baru setiap saat sebelum segala jenis aktvitas pelanggan dilakukan.
3.3. Visitor Location Register (VLR)
VLR adalah network element yang
berfungsi sebagai sebuah database yang menyimpan data dan informasi
pelanggan, dimulai pada saat pelanggan memasuki suatu area yang bernaung
dalam wilayah MSC VLR (setiap MSC akan memiliki 1 VLR sendiri) tersebut
(melakukan Roaming). Informasi pelanggan yang ada di VLR ini pada
dasarnya adalah copy-an dari informasi pelanggan yang ada di HLR-nya.
Adanya informasi mengenai pelanggan dalam VLR memungkinkan MSC untuk
melakukan hubungan baik Incoming (panggilan masu) maupun Outgoing
(panggilan keluar). VLR bertindak sebagai data base pelanggan yang
bersifat dinamis, karena selalu berubah setiap waktu, menyesuaikan
dengan pelanggan yang memasuki atau berpindah dalam suatu area cakupan
suatu MSC. Data yang tersimpan dalam VLR secara otomatis akan selalu
berubah mengikuti pergerakan pelanggan. Ketika pelanggan bergerak
meninggalkan area suatu MSC dan menuju area MSC lainnya, maka
informasinya akan dicatat di VLR MSC barunya dan dihapus dari VLR
sebelumnya. Dengan demikian posisi pelanggan dapat dimonitor secara
terus menerus dan hal ini akan memungkinkan MSC untuk melakukan
penyambungan pembicaraan/SMS dari/ke pelanggan ini ke dengan pelanggan
lain. VLR selalu berhubungan secara intensif dengan HLR yang berfungsi
sebagai sumber data pelanggan.
Bila sebuah MS bergerak keluar coverage area suatu MSC menuju coverage MSC yang lain, maka yang terjadi adalah :
- VLR MSC yang baru akan meng-check di daabase-nya apakah record MS tersebut sudah ada atau belum. Proces pengecheckan dilakukan dengan menggunakan IMSI.
- Jika recordnya belum ada, maka VLR akan mengirimkan request ke HLR MS tersebut untuk mengirimkan copy-an data MS tersebut yang ada di HLR-nya.
- HLR akan mengirimkan informasi MS tersebut ke VLR tjuan dan juga meng-update informasi lokasi MS tersebut di database HLR. HLR kemudian akan mengintruksikan VLR sebelumnya(asal) untuk menghapus informasi MS tersebut di databasenya.
- VLR yang baru akan menyimpan informasi MS tersbut, termasuk lokasi terakhir dan statusnya.
3.4. Authentication Center (AuC)
AuC menyimpan semua informasi yang
diperlukan untuk memeriksa keabsahan pelanggan, sehingga usaha untuk
mencoba mengadakan hubungan pembicaraan bagi pelanggan yang tidak sah
dapat dihindarkan. Disamping itu AuC berfungsi untuk menghindarkan
adanya pihak ke tiga yang secara tidak sah mencoba untuk menyadap
pembicaraan. Dengan fasilitas ini,maka kerugian yang dialami pelanggan
sistem selular analog saat ini akibat banyaknya usaha memparalel, tidak
mungkin terjadi lagi pada GSM. Sebelum proses penyambungan switching
dilaksanakan sistem akan memeriksa terlebih dahulu, apakah pelanggan
yang akan mengadakan pembicaraan adalah pelanggan yang sah.
AuC menyimpan informasi mengenai
authentication dan chipering key. Karena fungsinya yang mengharuskan
sangat khusus, authentication mempunyai algoritma yang spesifik,
disertai prosedur chipering yang berbeda untuk masing-masing pelanggan.
Kondisi ini menyebabkan AuC memerlukan kapasitas memory yang sangat
besar. Wajar apabila GSM memerlukan kapasitas memory sangat besar pula.
Karena fungsinya yang sangat penting, maka operator selular harus dapat
menjaga keamanannya agar tidak dapat diakses oleh personil yang tidak
berkepentingan. Personil yang mengoperasikan dilengkapi dengan chipcard
dan juga password identitas dirinya.
3.5. Equipment Identity Registration (EIR)
EIR memuat data-data peralatan pelanggan
(Mobile Equipment) yang diidentifikasikan dengan IMEI (International
Mobile equipment Identity). Data Mobile Equipment yang di simpan di EIR
dapat dibagi atas 3 (tiga) kategori:
- Peralatan yang diijinkan untuk mengadakan hubungan pembicaraan kemanapun
- Peralatan yang dibatasi dan hanya diijinkan mengadakan hubungan pembicaraan ketujuan yang terbatas
- Peralatan yang sama sekali tidak diijinkan untuk berkomunikasi
Kebaradaan EIR belum distandardisasi
secara penuh, oleh karena itu belum dioperasikan di semua operator.
Masih diperlukan klasifikasi dan penyempurnaan yang berkaitan dengan
aspek hukum. Di Indonesia sendiri, belum ada operator seluler yang
mengimplementasikan EIR. Bila EIR digunakan, maka operator dapat
melakukan pemblokiran terhadap handset (ingat, bukan pemblokiran nomor
pelanggan, tapi pemblokiran handset (pesawat telponnya)) yang digunakan
oleh pelanggan. Sehingga apabila ada handset pelanggan yang hilang, maka
pelangan dapat mengajukan agar handaset tersebut diblokir sehingga
tidak akan pernah dapat digunakan lagi oleh orang lain. Dengan
pengimplementasian EIR ini tentu akan dapat mengurangi kasus-kasus
pencurian handphone, karena si pemilik dapat meminta agar handphonenya
yang sudah dicuri diblokir dan tidak dapat digunakan lagi. Sehingga
motivasi para pencuri untuk melakukan pencurian handphone akan
berkurang.
4. Operation and Support System (OSS)
Operation and Support System (OSS)
sering juga disebut dengan OMC (Operation and Maintenance Center),
adalah sub system jaringan GSM yang berfungsi sebagai pusat pengendalian
dan maintenance perangkat (network element) GSM yang terhubung
dengannya. Tiap-tiap network element mempunyai perangkat OMC-nya
sendiri-sendiri, misalnya network element NSS mempunyai perangkat OMC
sendiri, network element BSS mempunyai perangkat OMC sendiri, network
element VAS juga memiliki perangkat OMC sendiri. Biasanya, di banyak
operator semua perangkat OMC ini diletakan di dalam satu ruangan OMC
yang terpusat.
OMC pada umumnya memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
- Fault Management : Memonitor keadaan/kondisi tiap-tiap network element yang terhubung dengannya. Dalam hal ini, OMC akan selalu menerima alarm dari network element yang menunjukan kondisi di network element yang dimonitor, apakah ada probelm di newtwork element atau tidak.
- Configuration Management : sebagai interface untuk melakukan/merubah configurasi network element yang terhubung dengannya.
- Performance Management : Berapa OMC ada yang dilengkapi juga dengan fungsi performance management, yaitu fungsi untuk memonitor performance dari network element yang terhubung dengannya.
- Inventory Management : OMC juga dapat berfungsi sebagai inventorty management, karena di database OMC terdapat informasi tentang aset yang berupa network element, seperti jumlah dan konfigurasi seluruh network element, dan juga kapasitas network elemen.
Langganan:
Postingan (Atom)
